Dokter UC, Dukung Deteksi Dini Kanker Mulut untuk Mencegah Keterlambatan Pengobatan

Luka yang tidak kunjung sembuh di dalam mulut mungkin sering dianggap sebagai sariawan biasa oleh banyak orang. Namun, perlu diketahui, kondisi seperti ini bisa menjadi simbol awal dari kanker rongga mulut, suatu penyakit yang kerap kali terdiagnosis terlambat di Indonesia. Data dari Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) mencatat bahwa kanker bibir dan rongga mulut masih merupakan salah satu jenis kanker yang sering ditemukan di Indonesia. Beberapa penelitian klinis juga menunjukkan bahwa banyak pasien baru melakukan pemeriksaan ketika penyakit mereka sudah berada di stadium lanjut, hal ini dikarenakan gejala awal seringkali dianggap tidak penting. Menanggapi fakta ini, Universitas Ciputra Surabaya telah meluncurkan sebuah program baru yang bertujuan untuk membantu masyarakat melakukan deteksi dini kanker mulut.
Program ini diadakan secara rutin setiap minggu, yakni: Rabu untuk konsultasi kesehatan gigi dan mulut, dan Kamis untuk konsultasi kesehatan umum. Program ini diadakan dalam format live selama satu jam, dari pukul 15.30 hingga 16.30 WIB di Tiktok, di mana masyarakat dapat langsung bertanya kepada dokter secara real-time tanpa biaya. Dua dokter spesialis penyakit mulut, drg. Karlina Puspasari dan drg. Nurfitri Amaliah, membahas tanda-tanda bahaya luka di rongga mulut yang sering diabaikan. Menurut Karlina, sariawan biasa biasanya akan sembuh dalam waktu 7–14 hari.
“Jika setelah dua minggu luka tersebut tidak membaik, terlebih lagi jika disertai perubahan warna atau jaringan yang terasa keras, itu perlu untuk segera diperiksakan,” jelas Karlina. Sementara itu, Nurfitri menambahkan bahwa keterlambatan pemeriksaan sering terjadi karena masyarakat tidak merasakan nyeri pada tahap awal. Bahkan, kanker rongga mulut pada stadium awal seringkali tidak terasa sakit. “Ironisnya, karena tidak merasakan nyeri, banyak orang yang menunda pemeriksaan. Oleh karena itu, edukasi seperti ini sangat penting agar masyarakat lebih peka terhadap perubahan di tubuhnya sendiri,” ujar dia.
Michael Hery Tera, Vice Rector for Operations, Technology, and Resources Universitas Ciputra, mengatakan bahwa melalui program ini, Universitas Ciputra tidak hanya menawarkan edukasi. Tetapi juga membuka akses konsultasi yang lebih mudah, cepat, dan relevan dengan kebiasaan masyarakat di era digital. “Program ini adalah bentuk dari komitmen Universitas Ciputra dalam memperluas literasi kesehatan masyarakat Indonesia. Kami ingin berperan aktif bukan hanya dalam pendidikan formal, tetapi juga dalam memberikan kontribusi nyata bagi kesehatan publik melalui akses konsultasi yang mudah dan terpercaya,” ucapnya.
Diharapkan, program ini dapat menjadi jembatan antara tenaga medis dan publik. Selain itu, program ini juga diharapkan dapat mendorong budaya deteksi dini sebagai bagian dari gaya hidup sehat masyarakat.




