Jakarta – Dalam langkah besar untuk memerangi peredaran narkoba, Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri baru-baru ini mengungkap jaringan narkoba yang dikenal dengan nama “The Doctor”. Dipimpin oleh seorang bandar bernama Andre Fernando, alias The Doctor, jaringan ini ternyata memiliki struktur yang lebih kompleks, dengan atasan yang terlibat di Malaysia. Penangkapan dan penyelidikan ini membuka tabir lebih dalam mengenai modus operandi jaringan narkoba yang sangat terorganisir.
Identifikasi Jaringan Narkoba “The Doctor”
Melalui keterangan resmi, Brigadir Jenderal Polisi Eko Hadi Santoso, selaku Direktur Tindak Pidana Narkoba, menjelaskan bahwa Andre Fernando memiliki dua orang atasan utama. Mereka adalah Hendra, seorang pria asal Aceh yang kini tinggal di Malaysia, dan Tomy, seorang warga negara Malaysia. Menariknya, kedua atasan ini tidak saling mengenal satu sama lain, menunjukkan adanya pengaturan yang sangat hati-hati dalam jaringan ini.
Peran Andre Fernando dalam Jaringan
Andre Fernando berfungsi sebagai perantara dan penjamin antara Hendra dan Tomy dengan pelanggan mereka. Hubungan ini dimulai ketika Andre diperkenalkan kepada Hendra oleh seorang teman bernama Hendro alias Nemo. Sementara itu, pertemanannya dengan Tomy terjadi saat bermain judi di Genting Highland, Malaysia. Interaksi sosial ini tampaknya menjadi pintu masuk bagi Andre untuk terlibat lebih dalam dalam dunia narkoba.
Rincian Transaksi Narkoba
Andre terlibat dalam beberapa transaksi narkoba yang bernilai tinggi, termasuk pengambilan sabu-sabu dari Hendra. Pada bulan Februari 2026, Andre mengambil dua kali pengiriman sabu-sabu, masing-masing seberat 2 kilogram dan 3 kilogram. Harga yang ditetapkan untuk setiap kilogram sabu-sabu tersebut adalah Rp380 juta, dan Andre berhasil menjualnya kepada seorang pelanggan bernama Arfan Yulius Lauw dengan harga Rp390 juta per kilogram.
Jenis Narkotika yang Diperdagangkan
Selain sabu-sabu, Andre juga terlibat dalam perdagangan berbagai jenis narkotika lainnya. Beberapa transaksi yang tercatat meliputi:
- Etomidate berukuran kecil, sebanyak 500 buah pada Januari 2026, dengan harga Rp1,6 juta per buah, dijual kepada INS alias Mami Mika seharga Rp1,8 juta.
- Happy five sejumlah 50 bungkus pada Desember 2025, dibeli seharga Rp1,8 juta per bungkus dan dijual seharga Rp2 juta.
- Etomidate ukuran kecil, sebanyak 250 buah pada Desember 2025, dijual kepada Mami Mika dengan harga Rp1,8 juta per buah.
- Etomidate ukuran kecil, sebanyak 397 buah pada Januari 2026, dengan harga yang sama, Rp1,7 juta per buah.
- Etomidate ukuran besar, sebanyak 700 buah pada Februari 2026, dijual dengan harga Rp1,7 juta per buah.
Strategi Menghindari Penangkapan
Dalam proses penyelidikan, terungkap bahwa Andre melakukan berbagai upaya untuk menghindari penangkapan. Saat mengetahui bahwa namanya masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) oleh Bareskrim Polri, ia membuang ponsel miliknya di sebuah jalan tol yang menghubungkan Kuala Lumpur ke Selangor. Tindakan ini dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan jejak dan barang bukti yang dapat memberatkan dirinya.
Analisis Jaringan Narkoba yang Terorganisir
Penyelidikan terhadap jaringan narkoba “The Doctor” menunjukkan adanya sistem yang terstruktur dan terorganisir. Dengan dua atasan yang memiliki latar belakang berbeda dan tidak saling mengenal, serta seorang perantara yang aktif, jaringan ini mampu bertahan dalam lingkungan yang sangat berisiko. Hal ini mencerminkan tantangan yang dihadapi pihak berwenang dalam memberantas peredaran narkoba.
Keberhasilan pengungkapan jaringan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mengurangi peredaran narkoba yang merugikan masyarakat. Kerjasama antara berbagai instansi dan pemahaman mendalam tentang modus operandi yang digunakan oleh para pelaku menjadi kunci dalam memerangi kejahatan narkoba di Indonesia.
