Pakar ITS Ungkap Strategi Efektif Atasi Lebaran 2026 Tanpa Krisis BBM

Surabaya – Keresahan masyarakat mengenai ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) menjelang Lebaran 2026 tengah menjadi sorotan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, baru-baru ini menegaskan bahwa ketakutan tersebut tidak beralasan. Ia menjelaskan bahwa pasokan BBM nasional masih aman dan dapat bertahan meski dalam situasi geopolitik yang kian memanas. Dengan pengalaman yang dimiliki, ia meyakinkan publik bahwa kebutuhan BBM akan tetap terjaga saat momen mudik Lebaran yang ramai.
Kinerja Pemerintah dalam Menjaga Pasokan BBM
Ary Bachtiar Krishna Putra, peneliti dari Laboratorium Rekayasa Termal dan Sistem Energi (RTSE) di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), memberikan apresiasi terhadap langkah pemerintah dalam memastikan pasokan BBM yang stabil selama hari raya. Menurutnya, pengalaman Menteri Bahlil dalam menangani kebutuhan energi selama periode mudik setiap tahun sangat membantu dalam perencanaan pasokan.
“Kegiatan mudik ini sudah menjadi agenda tahunan. Artinya, pemerintah sudah memiliki pengalaman untuk memastikan ketersediaan dan harga BBM tetap terjaga,” ungkap Ary pada Sabtu (28/3).
Prediksi Pola Konsumsi BBM Selama Lebaran
Menurut Ary, pola konsumsi BBM pada saat Lebaran dapat diprediksi dengan cukup baik. Hal ini disebabkan oleh durasi yang terbatas, yaitu sekitar satu minggu saat arus mudik dan balik. Dengan demikian, pemerintah dapat lebih mudah mengantisipasi lonjakan permintaan selama periode tersebut.
“Ketika Lebaran, ada peningkatan konsumsi karena aktivitas mudik. Namun, itu hanya berlangsung sekitar seminggu, dari berangkat hingga kembali,” jelasnya.
Perilaku Bijak Masyarakat dalam Penggunaan BBM
Selain itu, Ary menilai bahwa kesadaran masyarakat dalam menggunakan BBM dengan bijak juga berkontribusi terhadap stabilitas pasokan. Rasa khawatir akan potensi kelangkaan membuat masyarakat lebih selektif dalam konsumsi BBM.
“Jika masyarakat bisa mengontrol penggunaan dan tidak berlebihan, dampaknya sangat positif. Di beberapa daerah, antrean untuk mendapatkan BBM sudah berkurang signifikan,” tambahnya.
Tantangan Ketahanan Energi Indonesia
Meskipun ada kemajuan, Ary mengingatkan bahwa ketahanan energi Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah kapasitas cadangan BBM yang masih terbatas jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan. Ia mencatat bahwa cadangan energi nasional saat ini berkisar antara 20 hingga 28 hari, jauh di bawah Jepang dan Singapura yang memiliki cadangan hingga berbulan-bulan.
“Dengan kondisi seperti ini, langkah pemerintah untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan BBM hingga 90 hari adalah langkah strategis yang harus segera diimplementasikan. Ini akan memperkuat ketahanan energi kita,” ucap Ary.
Pentingnya Kebijakan Penyimpanan BBM
Menurut Ary, jika pemerintah bisa mencapai target penyimpanan BBM selama 90 hari, hal ini akan sangat bermanfaat. Ini memberikan fleksibilitas lebih dalam menghadapi fluktuasi harga pasar.
“Memiliki cadangan yang cukup berarti kita bisa lebih tenang dalam menghadapi perubahan harga, karena kita masih memiliki persediaan dari pengadaan sebelumnya,” jelas Ary.
Peran Program Biodiesel
Lebih lanjut, Ary juga menyoroti pentingnya program biodiesel, seperti B50, yang dinilai efektif dalam mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar. Namun, untuk bensin, negara ini masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Indikator Positif Pengelolaan Energi Nasional
Dengan kombinasi pengalaman pemerintah dalam mengelola pasokan, pola konsumsi yang dapat diprediksi, serta dukungan dari kebijakan energi yang ada, Ary menyimpulkan bahwa keberhasilan dalam menjaga pasokan BBM selama Lebaran tahun ini menunjukkan kemajuan dalam pengelolaan energi nasional. Hal ini memberikan harapan bagi masyarakat agar tidak ada krisis BBM yang berarti pada saat Lebaran 2026.
Dalam rangka menghadapi tantangan yang ada, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor energi menjadi kunci untuk menjaga ketahanan pasokan BBM. Dengan langkah-langkah strategis dan kebijakan yang tepat, Indonesia dapat meraih stabilitas energi yang lebih baik di masa depan.
Strategi Atasi Lebaran 2026
Untuk memastikan ketersediaan BBM yang memadai saat Lebaran 2026, beberapa strategi dapat diterapkan, antara lain:
- Memperluas kapasitas penyimpanan BBM di berbagai daerah.
- Meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya penggunaan BBM yang efisien.
- Implementasi program biodiesel secara lebih luas untuk mengurangi ketergantungan impor.
- Memperkuat data dan analisis untuk memprediksi pola konsumsi BBM secara lebih akurat.
- Kerja sama antara pemerintah dan sektor swasta dalam pengelolaan pasokan energi.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan Lebaran 2026 dapat dilalui tanpa adanya krisis BBM yang mengganggu mobilitas masyarakat, memberikan kenyamanan dalam merayakan hari raya, serta meningkatkan kepercayaan publik terhadap pengelolaan energi nasional.




